Kamis, 13 Mei 2010

ilmu ukur wilayah (IUW) untuk praktikum "Global Positioning System (GPS)"

Definisi Peta

        Peta adalah gambaran permukaan bumi pada bidang datar dengan skala tertentu melalui suatu sistem proyeksi. Peta bisa disajikan dalam berbagai cara yang berbeda, mulai dari peta konvensional yang tercetak hingga peta digital yang tampil di layar komputer.lihat sumber
        Peta adalah gambaran permukaan bumi pada bidang datar dengan skala tertentu melalui
suatu sistem proyeksi.lihat sumber
       A map is a medium of communication, and the effectiveness with which it communicates spatial information depends in large measure on the quality with which the displayed features are labeled. A map should render the information of interest clearly, rapidly, and without ambiguity. Cartographers have refined the art of map making over hundreds of years and have established an extensive body of cartographic skills, conventions, and quality standards. Any automatic system for text placement must conform to the same conventions and aim at the same level of cartographic quality.lihat sumber
       A map is a visual representation of an area a symbolic depiction highlighting relationships between elements of that space such as objects, region, and themes.
Many maps are static two-dimensiona, geometrically accurate representations of three-dimensional space, while others are dynamic or interactive, even three-dimensional. Although most commonly used to depict geography, maps may represent any space, real or imagined, without regard to context or scale; e.g.Brain Mapping, DNA  mapping, and extraterrestrial mapping. lihat sumber

Peta dapat diklasifikasi menjadi dua / 2 jenis, yakni :
1. Peta Umum
Peta umum adalah peta yang manampilkan bentuk fisik permukaan bumi suatu wilayah. Contoh : Peta jalan dan gedung wilayah DKI Jakarta.
2. Peta Khusus
Peta khusus adalah peta yang menampakkan suatu keadaan atau kondisi khusus suatu daerah tertentu atau keseluruhan daerah bumi. Contohnya adalah peta persebaran hasil tambang, peta curah hujan, peta pertanian perkebunan, peta iklim, dan lain sebagainya.

Definisi Pemetaan
 
        Pemetaan adalah proses pengukuran, perhitungan dan penggambaran permukaan bumi (terminologi geodesi) dengan menggunakan cara dan atau metode tertentu sehingga didapatkan hasil berupa softcopy maupun hardcopy peta yang berbentukvektor maupun raster.lihat sumber
        Kartografi merupakan bagian dari ilmu geografi yang berhubungan dengan pemetaan. Kaitan antara kartografi dengan dokumen ilmiah yaitu dari cara penyajian dan peyimpanan (storage) data. Penyajian data dalam bidang kartografi adalah penyajian informasi dalam bentuk keruangan atau spasial pada bidang datar berupa peta. Penyajian secara grafis dalam informasi spasial ini lebih memudahkan para pengguna peta dalam memahami informasi suatu wilayah hanya dengan melihat peta, daripada harus melihat informasi dalam bentuk data tabular (data tabel).lihat sumber
      Surveying is the science, art and technology of determining the relative positions ofpoints above, on, or beneaththe earth surface, or of establishing suchpoints. [sumber : Wolf, Paul R & Ghilani, Charles D. 2002. Elementary Surveying : An Introduction to Geomatics. Prentice Hall. New Jersey] 
      The Mapping refer to : The making of maps, as in cartography, surveying, and photogrammetry.lihat sumber

Sistem Informasi Geografi (SIG)

       Sistem Informasi Geografi (SIG) atau Geographic Information System (GIS) adalah suatu sistem informasi yang dirancang untuk bekerja dengan data yang bereferensi spasial atau berkoordinat geografi atau dengan kata lain suatu SIG adalah suatu sistem basis data dengan kemampuan khusus untuk menangani data yang bereferensi keruangan (spasial) bersamaan dengan seperangkat operasi kerja (Barus dan Wiradisastra, 2000). Sedangkan menurut Anon (2001) Sistem Informasi geografi adalah suatu sistem Informasi yang dapat memadukan antara data grafis (spasial) dengan data teks (atribut) objek yang dihubungkan secara geogrfis di bumi (georeference). Disamping itu, SIG juga dapat menggabungkan data, mengatur data dan melakukan analisis data yang akhirnya akan menghasilkan keluaran yang dapat dijadikan acuan dalam pengambilan keputusan pada masalah yang berhubungan dengan geografi.lihat sumber
      Sistem Informasi Geografis adalah sistem informasi khusus yang mengelola data yang memiliki informasi spasial (bereferensi keruangan). Atau dalam arti yang lebih sempit, adalah sistem komputer yang memiliki kemampuan untuk membangun, menyimpan, mengelola dan menampilkan informasi berefrensi geografis, misalnya data yang diidentifikasi menurut lokasinya, dalam sebuah database. Para praktisi juga memasukkan orang yang membangun dan mengoperasikannya dan data sebagai bagian dari sistem ini.lihat sumber
     A Geographic Information System (GIS) is the high-tech equivalent of a map. Unlike traditional paper maps, which are usually made to fit a single purpose and, once printed, go out of date fairly quickly, a GIS may be used for any number of different purposes and may combine countless sources of data that can be manipulated and updated at any time.lihat sumber

      A geographic information system (GIS) integrates hardware, software, and data for capturing, managing, analyzing, and displaying all forms of geographically referenced information.GIS allows us to view, understand, question, interpret, and visualize data in many ways that reveal relationships, patterns, and trends in the form of maps, globes, reports, and charts.lihat sumber
  
Global Positioning System (GPS)

 GPS adalah sistem radio navigasi dan penentuan posisi dengan menggunakan satelit yang dimiliki dan dikelola oleh Departemen Pertahanan Keamanan Amerika Serikat. Sistem ini didesain untuk memberikan posisi dan kecepatan tiga dimensi dan informasi mengenai waktu secara kontinu. GPS terdiri dari tiga segmen utama, segmen angkasa (space segmen) yang terdiri dari satelit-satelit GPS, segmen sistem kontrol (control segment) yang terdiri dari stasion-stasion pemonitor dan pengontrol satelit, dan segmen pemakai (user segment) yang terdiri dari pemakai GPS termasuk alat-alat penerima dan pengolah sinyal data GPS.
      Global Positioning System (GPS) adalah satu-satunya sistem navigasi satelit yang berfungsi dengan baik. Sistem ini menggunakan 24 satelit yang mengirimkan sinyal gelombang mikro ke Bumi. Sinyal ini diterima oleh alat penerima di permukaan, dan digunakan untuk menentukan posisi, kecepatan, arah, dan waktu.lihat sumber
     GPS (Global Positioning System) adalah sistem satelit navigasi dan penentuan posisi yang dimiliki dan dikelola oleh Amerika Serikat. Sistem ini didesain untuk memberikan posisi dan kecepatan tiga-dimensi serta informasi mengenai waktu, secara kontinyu di seluruh dunia tanpa bergantung waktu dan cuaca, bagi banyak orang secara simultan.lihat sumber
     The Global Positioning System is a satellite navigation system that allows the user to acquire accurate determination of position and velocity based on noisy observation of the satellite signals. The model has the same structure for both position and velocity but with different parameter values.lihat sumber

                                      Prinsip penentuan posisi dengan GPS


Prinsip penentuan posisi dengan GPS yaitu menggunakan metode reseksi jarak, dimana pengukuran jarak dilakukan secara simultan ke beberapa satelit yang telah diketahui koordinatnya. Pada pengukuran GPS, setiap epoknya memiliki empat parameter yang harus ditentukan : yaitu 3 parameter koordinat X,Y,Z atau L,B,h dan satu parameter kesalahan waktu akibat ketidaksinkronan jam osilator di satelit dengan jam di receiver GPS. Oleh karena diperlukan minimal pengukuran jarak ke empat satelit.KLIK disini untuk mengunduh jurnal tentang GPS (JUDUL JURNAL :EVALUATION OF LOW COST GPS APPLICATION FOR AN AUTONOMOUS
HELICOPTER IN THE PRESENCE OF KALMAN FILTER

Selasa, 11 Mei 2010

ilmu ukur wilayah (IUW) untuk praktikum "pengenalan alat"

 PENGUNTING atau LEVELLING


Gambar diatas adalah alat pengunting atau levelling yang digunakan untuk melakukan penguntingan. Dimana penguntingan adalah penentuan beda tinggi antara dua tempat atau titik.
tujuan dari penguntingan adalah :
          1. Mendapatkan beda tinggi antara dua titik/tempat
          2. Menentukan titik pedoman tinggi pada lokasi pemetaan.

ini adalah tampilan pengunting yang lengkap dengan trimpot :

PRISMA atau PRISM


GLOBAL POSITIONING SYSTEM atau GPS


Global Positioning System (GPS) adalah satu-satunya sistem navigasi satelit yang berfungsi dengan baik. Sistem ini menggunakan 24 satelit yang mengirimkan sinyal gelombang mikro ke Bumi. Sinyal ini diterima oleh alat penerima di permukaan, dan digunakan untuk menentukan posisi, kecepatan, arah, dan waktu. Sistem yang serupa dengan GPS anatara lain GLONASS Rusia, GALILEO Uni Eropa, IRNSS India.
       Sistem ini dikembangkan olehDepartemen Pertahanan Amerika Serikat, dengan nama lengkapnya adalah NAVSTAR GPS (kesalahan umum adalah bahwa NAVSTAR adalah sebuah singkatan, ini adalah salah, NAVSTAR adalah nama yang diberikan oleh John Walsh, seorang penentu kebijakan penting dalam program GPS)..
       GPS Tracker atau sering disebut dengan GPS Tracking adalah teknologi AVL (Automated Vehicle Locater) yang memungkinkan pengguna untuk melacak posisi kendaraan, armada ataupun mobil dalam keadaan Real-Time. GPS Tracking memanfaatkan kombinasi teknologi GSM dan GPS untuk menentukan koordinat sebuah obyek, lalu menerjemahkannya dalam bentuk peta digital.

Cara Kerja GPS
        Sistim ini menggunakan sejumlah satelit yang berada di orbit bumi, yang memancarkan sinyalnya ke bumi dan ditangkap oleh sebuah alat penerima. Ada tiga bagian penting dari sistim ini, yaitu bagian kontrol, bagian angkasa, dan bagian pengguna.

1. Kontroler
Setiap satelit dapat berada sedikit diluar orbit, sehingga bagian ini melacak orbit satelit, lokasi, ketinggian, dan kecepatan. Sinyal-sinyal sari satelit diterima oleh bagian kontrol, dikoreksi, dan dikirimkan kembali ke satelit. Koreksi data lokasi yang tepat dari satelit ini disebut dengan data ephemeris, yang nantinya akan di kirimkan kepada alat navigasi kita.
2. Segmen Angkasa
Bagian ini terdiri dari kumpulan satelit-satelit yang berada di orbit bumi, sekitar 12.000 mil diatas permukaan bumi. Kumpulan satelit-satelit ini diatur sedemikian rupa sehingga alat navigasi setiap saat dapat menerima paling sedikit sinyal dari empat buah satelit. Masing-masing satelit memiliki kodenya sendiri-sendiri. Nomor kode ini biasanya akan ditampilkan di alat navigasi, maka kita bisa melakukan identifikasi sinyal satelit yang sedang diterima alat tersebut. Data ini berguna bagi alat navigasi untuk mengukur jarak antara alat navigasi dengan satelit, yang akan digunakan untuk mengukur koordinat lokasi.
3. Segmen Pengguna
Satelit akan memancarkan data almanak dan ephemeris yang akan diterima oleh alat navigasi secara teratur. Data almanak berisikan perkiraan lokasi (approximate location) satelit yang dipancarkan terus menerus oleh satelit. Data ephemeris dipancarkan oleh satelit, dan valid untuk sekitar 4-6 jam. Untuk menunjukkan koordinat sebuah titik (dua dimensi), alat navigasi memerlukan paling sedikit sinyal dari 3 buah satelit. Untuk menunjukkan data ketinggian sebuah titik (tiga dimensi), diperlukan tambahan sinyal dari 1 buah satelit lagi.

THEODOLIT DIGITAL

Theodolit Digital adalah instrument / alat yang dirancang untuk pengukuran sudut yaitu sudut mendatar yang dinamakan dengan sudut horizontal dan sudut tegak yang dinamakan dengan sudut vertical. Dimana sudut – sudut tersebut berperan dalam penentuan jarak mendatar dan jarak tegak diantara dua buah titik lapangan. 
Theodolit Digital merupakan Alat ukur Dengan teknologi Digital sehingga dapat menghasilkan ketelitian dan akurasi yang baik dalam pengukuran Luas, sudut, beda tinggi, Digital theodolite Sangat baik dalam pengukuran tanah, luas Area, Sudut, peluasan jalan, Jembatan,Dll.

Bagian-Bagian Theodolit
Secara umum, konstruksi theodolit terbagi atas dua bagian :
1. Bagian atas, terdiri dari :
o Teropong / Teleskope
o Nivo tabung
o Sekrup Okuler dan Objektif
o Sekrup Gerak Vertikal
o Sekrup gerak horizontal
o Teropong bacaan sudut vertical dan horizontal
o Nivo kotak
o Sekrup pengunci teropong
o Sekrup pengunci sudut vertical
o Sekrup pengatur menit dan detik
o Sekrup pengatur sudut horizontal dan vertikal
2. Bagian Bawah terdiri dari :
o Statif / Trifoot
o Tiga sekrup penyetel nivo kotak
o Unting – unting
o Sekrup repitisi
o Sekrup pengunci pesawat dengan statif

Perhitungan Jarak
Jika memakai sudut  ZENITH :
o Do = (BA-BB) x100 x sin V, jarak optis
o Do = (BA-BB) x 100 x sin2 V, jarak datar
Jika memakai sudut ELEVASI :
o Do = (BA-BB) x 100 x cos V, jarak optis
o Do = (BA-BB) x100 x cos2 V, jarakk datar

 Perhitungan Beda Tinggi (∆H)
Jika memakai sudut vertical (zenith) :
∆h = ta + dh – BT
tan V
Jika memakai sudut vertical (elevasi) :
∆h = ta + (dh x tan V) – BT
  
 Perhitungan Ketinggian
        TPx = TP1 + ∆h
        TP1 adalah ketinggian di titik pesawat.


Jika anda ingin mengetahui lebih jauh mengenai pemetaan,anda bisa melihat di referensi tentang survei dan pemetaan ini.di dalam referensi ini akan dibahas lebih jauh mengenai Teori Kesalahan, Pengukuran kerangka dasar vertikal, Pengukuran sipat dasar kerangka dasar vertikal, Proyeksi peta, aturan kuadran dan sistem koordinat, Macam besaran sudut, Jarak, azimuth dan pengikatan kemuka, Cara pengikatan ke belakang metode collins, Cara pengikatan kebelakang metode Cassini, Pengukuran poligon kerangka dasar horisontal, Pengukuran luas, Pengukuran titik-titik detail, Garis kontur, sifat dan interpolasinya, Perhitungan galian dan timbunan, Pemetaan digital, dan Sisitem informasi geografik.
Selengkapnya anda bisa .klik di sini

Minggu, 09 Mei 2010

Kekuatan Bahan untuk "Defleksi Dengan Metode Luas Momen"


Materi defleksi dengan metode luas momen untuk pengajuan laporan memerlukan beberapa materi diantaranya pengertiannya,penerapannya dalam bidang pertanian , faktor-faktor yang mempengaruhi, rumus-rumus yang digunakan dan sebagainya.
untuk sementara ini adalah materi mengenai:
1.Defleksi dengan metode LUAS MOMEN dan INTEGRASI GANDA, termasuk rumus2 yg digunakan
2.Materi ilmiah tentang defleksi yang membahas pengertian defleksi dan faktor2 yang mempengaruhi defleksi
3.teori-teori yang menunjang defleksi pada luas momen

Sabtu, 08 Mei 2010

Kekuatan Bahan "desain dan uji kuat tekan menara kayu"

Praktikum Kekuatan Bahan dengan judul DESAIN DAN UJI KUAT TEKAN PADA MENARA meembutuhkan beberapa materi untuk menyelesaikan laporan praktikum, diantaranya adalah Tabel Kelas Kekuatan Kayu, pegertian Menara, Sifat Bahan Kayu yang bisa lihat di daftar berikut ini:
1.Tabel Kelas Kekuatan Kayu
2.Pengertian Menara anda bisa mencari di kamus KBBI ini
3.Sifat Bahan Kayu

Rabu, 28 April 2010

Kumpulan jurnal Intrumentasi

Dari blog ini kalian bisa mendapatkan beberapa jurnal yang mungkin diperlukan dalam pembuatan laporan praktikum Instrumentasi. Jurnal yang diperlukan dalam praktikum kali ini adalah jurnal mengenai RANGKAIAN PENGHITUNG DIGITAL (RPD), ALAT PENGUKUR INTENSITAS CAHAYA, dan DIGITAL LIGHT METER.
Anda bisa klik dan download di bagian "Kumpulan Jurnal"
semoga bermanfaat bagi kita semua.

Sabtu, 20 Februari 2010

PENGARUH IKLIM TERHADAP TEKNOLOGI PENGOLAHAN LAHAN DI LAHAN SAWAH TADAH HUJAN

Pengaruh Iklim pada Keadaan Tanah Lahan Sawah Tadah Hujan
Lahan kering adalah hamparan lahan yang didayagunakan tanpa penggenangan air dalam kurun waktu tertentu, baik secara permanen maupun musiman dengan sumber air berupa hujan atau air irigasi. Menurut hasil rumusan Seminar Nasional Pengembangan Wilayah Lahan Kering di Mataram bulan Mei 2002, wilayah lahan kering mencakup : sawah tadah hujan, tegalan, ladang, kebun campuran, perkebunan, hutan,semak, padang rumput, dan padang penggembalaan.
Tanah yang baik adalah tanah yang mampu menyediakan unsur-unsur hara secara lengkap. Namun pertumbuhan tanaman juga di pengaruhi faktor-faktor penunjang kesuburan tanah. Selain harus mengandung zat organik dan anorganik, air dan udara, yang tidak kalah penting adalah pengolahan tanah yang bertujuan memperbaiki struktur tanah. Tanah yang gembur akibat pengolahan memiliki rongga-rongga yang cukup untuk menyimpan air dan udara yang di butuhkan untuk pertumbuhan tanaman. Kondisi ini juga menguntungkan bagi mikroorganisme tanah yang berperan dalam proses dekomposisi mineral dan zat organik tanah, sehingga zat hara yang dibutuhkan tanaman mudah di serap oleh tanaman.
Lapisan atas pada tanah sawah tadah hujan lebih padat dari pada lapisan bawah, dan pori drainase yang cepat atau pori aerasi yang cukup baik. Tanah sawah tadah hujan memiliki kemampuan potensial menahan air hujan dan aliran permukaan yang hampir sama dengan tanah irigasi. Sehingga selisih tinggi genangan dan tinggi pematangnya juga cukup kecil. Perbedaan ketinggian tersebut merupakan ruang yang dapat diisi sementara oleh air hujan dan aliran permukaan sebelum air mengalir ke sungai atau daerah di bawahnya juga dapat menampung sedimen dari daerah atasnya. Kurangnya penutupan lahan di wilayah bagian atas merupakan salah satu faktor penyebab rendahnya kemampuan tanah menahan air hujan dan aliran permukaan. kemampuan tersebut dapat ditingkatkan dengan memperbaiki penutupan lahan baik dengan menanam pohon-pohonan, membuat cekdam atau embung dan memasyarakatkan sistem usaha tani konservasi yakni penerapan teknik-teknik konservasi tanah dan air dalam mengelola lahan usaha tani.
Kendala utama pada lahan sawah tadah hujan ini adalah ketersediaan air yang sangat tergantung kepada curah hujan, sehingga lahan mengalami kekeringan pada musim kemarau (curah hujan rendah). Kemudian lambatnya petani mengadopsi teknologi baru untuk bertanam dua kali setahun, terutama pada daerah-daerah yang berada pada zona iklim tipe D1 sampai E2. Informasi teknologi pola tanam dan pengembangan kedelai secara utuh belum sampai kepada petani sebagaimana yang telah dilaksanakan di beberapa daerah lain.
Pencetakan sawah irigasi, pembangunan waduk dan irigasi saat ini menjadi masalah yang cukup serius, karena membutuhkan dana yang cukup besar dan penyiapan sumber air.
Lahan kering dan tadah hujan sangat potensial untuk ditanami padi. Untuk mendukung pemanfaatan lahan–lahan tersebut, tentunya dibutuhkan inovasi teknologi perpadian, termasuk teknologi dalam rangka mengatasi perubahan iklim global. Apalagi saat ini banyak kendala yang dihadapi dalam meningkatkan produksi padi.
Antara lain terbatasnya varietas yang dapat meningkatkan produktivitas nasional rata–rata 5 persen, keterbatasan lahan dalam penyediaan unsur hara dan perubahan iklim yang sulit diduga karena pemanasan global.
Dataran banjir biasa digunakan sebagai sawah tadah hujan yang tanahnya terdiri dari Typic Endoaquerts dan Vertic Eutrudepts. selain itu pada sawah tadah hujan dijumpai tanah Vertic Epiaquepts, Vertic Haplustepts dan Vertic Haplustolls.sedangkan untuk Jalur aliran satuan lahan pada penggunaan lahan sawah tadah hujan dijumpai tanah Ustic Endoaquerts, Udic Haplusterts dan Typic Ustorthents.
Pengaruh Keadaan Tanah Terhadap Pengaplikasian Teknologi Pengolahan Tanah di Lahan Sawah Tadah Hujan
Teknologi dalam pengolahan lahan kering, pada dasarnya sangat perperan penting dan dapat memberikan dampak perubahan yang baik, namun para petani pada umumnya lebih banyak menggunakan cara bertani yang tradisional dan masih primitif, yaitu bagaimana tata cara yang di ajarkan oleh nenek moyang mereka. Hal inilah yang bisa membuat pertanian masih jauh dari keberhasilan, walaupun apabila kita melihat ada beberapa petani yang sudah memanfaatkan teknologi yang canggih, akan tetapi itu hanya sebagian kecilnya saja.
Teknologi dalam hal ini adalah mesin traktor yang di gunakan untuk membajak lahan subur maupun lahan kering. Dalam hal ini, hanya sebagian kecil saja petani yang sudah menggunakan mesin traktor ini, dan yang sebagian besar yang lainnya tidak mau menggunakan mesin traktor karena mereka beranggapan bahwa menggunakan traktor lebih banyak menghabiskan biaya, selain itu petani juga sebenarnya berpikir logis, yaitu petani ada yang berpikir bahwa karena mesin traktor ini bisa menyebabkan lahan menjadi tidak terlalu subur, hal ini dikarenakan bahwa pada saat pembajakan ada bahan kimia seperti bensin atau solar yang di gunakan dalam traktor terjatuh ke dalam lahan, sehingga bisa membuat lahan menjadi kurang subur. Sehingga dengan hal ini para petani beranggapan bahwa mereka akan merugi, padahal menurut hasil yang di dapatkan, mereka akan mendapatkan hasil yang lebih besar, namun karena para petani sudah terdoktrin untuk tidak menggunakan teknologi ini.
Sumber daya air merupakan merupakan faktor pembatas utama dalam pengelolaan wilayah lahan kering. Ada sebuah teknologi yang sangat berguna bagi para petani dalam pengolahan lahan kering, yaitu mesin penyedot air dari sungai yang akan di alirkan ke sawah-sawah dan ini sudah banyak petani yang mengunakannya. Mesin ini dinamakan mesin ”diesel”. Konservasi air pada lahan kering menjamin keberhasilan pertanian di lahan kering. Dengan teknologi seperti ini, maka petani sudah biasa lebih ringan dalam mengolah lahan pertanian mereka.
Optimalisasi Lahan Sawah Tadah Hujan
Lahan sawah tadah hujan merupakan sumber daya fisik yang potensial untuk pengembangan pertanian, seperti padi, palawija dan tanaman holtikultura. Di Sumatera Barat luas areal sawah tadah hujan tercatat seluas 53,724 ha yang tersebar di beberapa kabupaten dan kota (BPS Sumbar, 2007). Daerah yang mempunyai areal sawah tadah hujan yang luas adalah Kabupaten Pesisir Selatan 11.484 ha (21,4%), Lima Puluh Kota 8.144 ha (15,2%), Tanah Datar 5.878 ha(10,9%), Sijunjung 5.829 ha (10,8%), Pasaman Barat 4.890 ha (9,1%) dan Padang Pariaman 4.522 ha (8,4%).
Pada umumnya lahan sawah tadah hujan ini hanya ditanami padi sekali dalam setahun yaitu pada musim hujan, sedangkan pada musim kemarau sebagian di antaranya mengalami bera sampai pada musim tanam berikutnya. Bahkan pada beberapa daerah atau lokasi, lahan tidur akibat keterbatasan air dan pengolahan yang tidak benar. Lahan yang seperti ini banyak dimanfaatkan sebagai areal penggembalaan ternak.
Di Sumatera Barat umumnya perbedaan musim hujan dan kemarau tidak tegas, pada musim kemarau curah hujan masih dapat mendukung pertumbuhan tanaman untuk berproduksi. Karena periode bulan-bulan keringnya relatif pendek (2-4 bulan), termasuk tipe iklim B2 dan C2. Kondisi ini masih memungkinkan untuk bertanam palawija sesudah padi seperti jagung, dan yang beresiko tinggi untuk bertanam lebih dari satu kali dalam setahun adalah daerah-daerah yang bertipe iklim D dan E dengan bulan-bulan basah yang panjang penanaman jagung sesudah padi, di lahan sawah tadah hujan dapat dilaksanakan pada akhir musim hujan atau awal musim kemarau.
Pemanfaatan lahan sawah tadah hujan dengan budidaya jagung bertujuan untuk meningkatkan indeks pertanaman dan meningkatkan pendapatan petani. Dengan tidak hanya tergantung pada padi. Dengan penerapan pola tanaman padi sawah yang diikuti jagung diharapkan dapat memberikan keuntungan yang lebih besar. Penelitian bertujuan untuk meningkatkan produksi padi dan jagung melalui perbaikan teknologi budidaya dan melihat besarnya keuntungan yang diberikan oleh tanaman jagung sesudah padi.
Penelitian dilaksanakan di lahan sawah tadah hujan Nagari Surantih Kabupaten Pesisir Selatan Sumatera Barat MT 2005/2006. Pada musim hujan dilaksanakan penanaman 2 varietas padi sawah (IR42 dan Batang Lembang), kedua varietas ditanam pada hamparan yang berbeda dengan perlakuan yang sama, yaitu teknologi introduksi. Pengolahan tanah dilakukan secara intensif, dibajak 2 kali dan digaru 1 kali sebelum tanam, bibit dipindahkan ke lapangan umur 20 hari, jarak tanam 20x20 cm. Pupuk diberikan dengan takaran Urea 150 kg/ha, SP36 100 kg/ha dan KCL 50 kg/ha. Penyiangan 2 kali yaitu 20 dan 42 hst dan pengendalian hama dan penyakit berdasarkan pemantauan di lapangan.
Data yang diamati yaitu hasil gabah (GKP/ha) yang diamati dari 10 sampel dari masing-masing varietas. Pada MK (musim kemarau) dilanjutkan dengan penanaman jagung, di setiap hamparan ditanam 2 varietas jagung komposit (Bisma dan Sukmaraga) dengan sistem TOT (Tanpa Olah Tanah). Persiapan lahan dengan penyemprotan herbisida Round Up (3 l/ha), kemudian pembuatan lubang tanam 80x40 cm. Benih ditanam 2 biji/lobang. Sebelum tanam, benih diberi Saromil (3,5 g/kg benih) guna pencegahan hama lalat bibit atau penggerek batang. Pupuk diberikan dengan takaran Urea 250 kg/ha, SP36 1 kg/ha, urea 250 kg/ha, SP 36 100 g/ha, KCL 100 kg/ha dan pupuk kandang 2t/ha. Seluruh pupuk kandang, SP 36, dan 1/3 takaran Urea dan KCL diberikan waktu tanam dan sisanya diberikan pada umur 30 HST bersamaan dengan pembubunan. Panen dilakukan berdasarkan kriteria masak panen yang ditandai dengan kelobot sudah kering dan biji sudah keras. Data yang diamati terdiri dari pertumbuhan tanaman, komponen hasil dan hasil serta analisa biaya.
Dari hasil pengamatan terlihat bahwa rata-rata hasil varietas IR42 3,87 t/ha dengan kisaran 3,32-4,55 t/ha dan varietas Batang Lembang 4,31 t/ha dengan kisaran 3,70-5,60 t/ha. Rata-rata hasil yang dicapai pada kedua varietas masih tergolong rendah dan bervariasi antar lokasi. Walaupun demikian hasil yang dicapai baru sekitar 2,50 t/ha. Masih rendahnya hasil yang dicapai berkaitan dengan ketersediaan air selama pertumbuhan tanaman di samping pengelolaan
tanaman yang belum intensif, terutama sekali pemberian pupuk. Pemberian pupuk yang dilakukan petani masih di bawah dosis anjuran. Padi varietas IR42 sudah lama diusahakan oleh petani di Surantih Pesisir Selatan, tetapi hasil yang dicapai belum optimal, sedangkan pada lokasi yang mendapat air irigasi yang teratur varietas ini dapat memberikan hasil >5,0 t/ha dan penanaman dapat dilakukan 2 kali dalam setahun.
Sedangkan di lahan sawah tadah hujan Surantih penanaman padi hanya dilakukan sekali dalam setahun. Padi varietas Batang Lembang dapat memberikan hasil yang lebih tinggi dibandingkan varietas IR42 di lahan sawah tadah hujan Surantih (>5,0 t/ha). Baik varietas IR42 maupun Batang Lembang dengan pengelolaan yang lebih baik, kemungkinan dapat memberikan hasil yang lebih baik. Di lahan sawah irigasi di Surantih varietas Batang Lembang dapat memberikan hasil di atas 6,0 t/ha.
Penanaman jagung sesudah padi varietas IR42, jagung varietas Bisma dapat memberikan sebesar 6,85 t/ha dan varietas Sukmaraga sebesar 7,31 t/ha. Hal yang sama juga terlihat pada penanaman jagung setelah padi varietas Batang Lembang. Jagung varietas Bisma dan Sukmaraga masing-masing dapat memberikan hasil sebesar 6,82 dan 6,90 t/ha.
Hal ini menunjukkan bahwa jagung varietas Sukmaraga berpotensi dikembangkan pada lahan sawah tadah hujan, karena dapat memberikan hasil dari kedua varietas ini disebabkan faktor genetik dan adaptasi tanaman terhadap lingkungan juga berbeda. Secara umum penanaman jagung sesudah padi pada lahan sawah tadah hujan dapat meningkatkan IP dari 100 menjadi 200.Penanaman jagung sesudah padi di lahan sawah tadah hujan Surantih Kabupaten Pesisir Selatan dapat meningkatkan pendapatan petani. Jagung varietas Bisma dengan hasil rata-rata sebesar 6,84 t/ha memberikan keuntungan Rp.6.537.920,-/ha.
Penempatan jagung dalam sistem pola tanam di lahan sawah tadah hujan dapat memberikan pendapatan tambahan bagi petani, dan pendapatan petani tidak hanya bergantung pada satu komoditas. Tinggi atau rendahnya keuntungan yang diperoleh dari usaha tani jagung sangat bergantung pada pengelolaan tanaman dan harga pasaran jagung; kemungkinan keuntungan yang diperoleh lebih besar bila harga jagung cukup tinggi.